Author Cantik

#BAB 1

Hari sudah hampir beranjak magrib. Namun, aku masih duduk di emperan toko orang sambil memeluk erat plastik berisi baju badutku. Ya, aku adalah pemuda yang berprofesi sebagai badut. Aku selalu ada di antara kumpulan anak-anak kecil untuk menghibur mereka. Hari ini aku hanya dapat uang dua puluh ribu rupiah saja. Karena hanya sedikit anak-anak yang main ke taman hari ini. Mungkin karena sekolah atau mereka sedang pergi liburan. 

Hujan sudah reda, aku segera beranjak pergi. Dengan uang dua puluh ribu, apa yang bisa kubelikan untuk Bapak? Dengan langkah gontai kudatangi warung makan Bu Iyem. Untungnya tidak terlalu ramai. 

“Eh, Dani. Mau beli apa?” sapanya ramah saat melihat kedatanganku. 

“Beli nasi dan sayur sepuluh ribu, Bu. Ini yang sepuluh ribu lagi buat bayar hutang nasi tadi pagi,” ucapku sambil menyodorkan uang pas. 

“Baik,” jawabnya sambil menerima uang dariku. 

Aku menghela napas panjang saat melihat dua orang yang sedang makan di ujung sana. Tampaknya mereka adalah mahasiswa kampus ternama di kota besar ini. Senangnya jika bisa berkuliah seperti mereka. Memakai almamater kampus dengan bangganya. Akan tetapi, rasa sedihku terobati. Karena, aku membantu banyak biaya kuliah Salma. Ia kekasihku sejak SMA. 

Salma sudah berjanji, jika nanti sudah selesai kuliah kami akan menikah. Dia salah satu semangatku untuk terus berjuang dan melawan hujatan orang-orang tentang kemiskinan. Demi Salma, aku rela menjual laptopku untuk biaya masuk kuliahnya. Laptop itu kubeli dari hasil Bapak menjual tanah sebelah rumah kami. Setelah tamat SMA, aku sudah tidak butuh laptop lagi. 

“Ini pesanannya.” 

“Terima kasih, Bu,” ucapku sambil meninggalkan tempat ini. 

Rumahku di ujung gang. Sebuah rumah kumuh kecil. Di sanalah aku tinggal bersama Bapak, ibuku sudah lama meninggal dunia. Bapak sekarang sudah sakit-sakitan terbawa usia. Bapak juga seorang badut. Aku tak bisa berbuat apa-apa dengan berbekalkan ijazah SMP. Ijazah SMA masih di sekolah, tidak diambil karena terkendala biaya. Aku masih punya tunggakan uang sekolah, sedangkan uang dari penjualan laptop sudah untuk biaya Salma. Aku sangat mencintainya. 

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, kamu sudah pulang,” sapa Bapak. 

“Sudah, Pak. Dani ganti baju dulu, setelah itu kita makan sama-sama.” 

Aku mengganti pakaian yang kotor. Tak ada pakaian bagus, hanya kaus berlengan pendek biasa. 

“Assalamualaikum.” Suara Salma. 

Aku menyunggingkan senyuman. Sudah lama ia tidak datang kemari karena kesibukan kuliahnya. Aku merindukannya. Akhirnya, malam ini rindu pun terobati. Aku secepatnya keluar kamar. Salma sedang bersalaman dengan Bapak. 

“Datang sama siapa sore begini, Neng?” tanyaku penasaran. 

“Sama teman, Bang. Kebetulan lewat dan mampir. Ini aku bawakan makanan untuk Abang dan Bapak,” ucapnya sambil menyodorkan plastik putih yang entah apa isinya. 

“Terima kasih banyak, Neng Salma.” Bapak sangat senang menatap gadis itu. 

Gadis cantik berambut panjang. Hidungnya bangir dan bermata bulat. Cantik sekali, ia semangatku selain Bapak. Setiap kali mengingatnya aku makin bersemangat berjoget-joget saat jadi badut. 

“Kalian ngobrol dulu, Bapak mau ke belakang sebentar,” pamit Bapak. 

Setelah Bapak pergi, Salma menatapku malu-malu. Ia memakai almamater biru sama seperti anak yang kulihat di tempat Bu Iyem tadi. Senyumannya manis sekali. Sejak kuliah, ia makin bertambah cantik. 

“Bang, Salma minta uang buat tugas dari dosen.”

“Berapa?” tanyaku. 

“Kalau bisa lima ratus ribu,” ucapnya. 

Uang lima ratus ribu? Itu bukan jumlah yang sedikit untukku. Untung saja, aku masih punya tabungan yang sengaja disimpan untuk kebutuhan mendesak. Aku masuk ke dalam kamar, di dalam lemari usang ada plastik hitam. Isinya uang dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan semua. Uang receh. Apakah Salma mau menerimanya? 

“Jumlahnya tidak sampai lima ratus. Hanya empat ratus, Salma mau?” ucapku selepas keluar dari kamar. 

“Iya, Bang. Salma mau, nanti sisanya bisa minta sama ibu.” Diambilnya plastik uang yang kupegang. Secepatnya ia masukkan ke dalam tas. 

“Makasih, Bang. Salma sangat menyayangi Abang.”

Hatiku sejuk mendengar ucapannya. Dia wanita yang sangat tulus. Satu-satunya wanita yang membuatku benar-benar jatuh cinta. Demi dia akan kulakukan apa saja. Aku rela tidak kuliah demi ikut membiayai kuliahnya. Semoga suatu hari nanti kamu sukses, tidak sepertiku yang tidak punya harga diri. 

“Salma, Abang di sini mati-matian demi kamu. Jadi, jangan sia-siakan kepercayaan dariku.” Aku meminta penuh harap. 

Salma hanya mengangguk sambil tersenyum simpul. Ia memang gadis pemalu. Tak perlu ia menjawabnya lagi, karena sudah sering kuucapkan kata tersebut. Jawabannya selalu berjanji setia padaku. Jawaban yang sangat menyejukkan hati. 

“Bang, Salma pulang dulu. Gak enak sama orang udah hampir magrib.”

“Hati-hati dijalan, Neng.” 

Salma pun pergi dari rumahku. Wangi parfumnya masih tertinggal, biarlah jadi pengobat rinduku padanya. 

“Loh, Salma mana?” tanya Bapak yang sudah kembali dari belakang. 

“Sudah pulang, Pak. Dia buru-buru, wajar sudah hampir magrib. Makan dulu kita, Pak,” ajakku. 

Bapak mengangguk. Kami membuka nasi yang tadi kubeli dan juga makanan bawaan Salma. Ternyata, kekasihku memberikan kami sepiring ayam goreng. Sudah lama sekali rasanya tidak makan ayam goreng, karena aku selalu berhemat untuk biaya kuliahnya. Salma sangat pengertian sekali. 

“Wah, ayam goreng,” kata Bapak riang. Beliau langsung memakan lahap ayam goreng itu. 

Aku makan nasi dan sayur yang sudah kupisahkan jadi dua bagian. Satu untukku dan satu untuk Bapak. Kubiarkan Bapak makan ayam goreng itu sampai puas dulu, sisanya nanti baru akan kumakan. Aku sangat menyayangi Bapak. 

Tiba-tiba ada bau busuk yang tercium, entah dari mana datangnya. Hanya aku yang merasakannya, Bapak sudah lama rusak penciumannya sejak terus mengonsumsi obat. Beliau tidak bisa mengenali bau lagi. 

Bau busuk dari mana? Seperti bau bangkai. Bapak sangat asik memakan ayam goreng dari Salma. Wajahnya sangat bahagia sekali. Baunya makin lama makin terasa. Apalagi saat Bapak menggigit sisa daging ayam yang masih tertempel di tulang ayam. 

Kupatahkan sayap ayam goreng yang ada di piring. Kuciumi dan aku baru tersadar bahwa bau ini berasal dari ayam goreng pemberian Salma. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Apakah Salma sengaja? Tapi itu tidak mungkin. 

“Enak sekali, Dani. Bapak suka,” ucap Bapak sambil asik mencomot lagi ayam goreng itu. 

“Jangan makan lagi, Pak. Ini kita simpan untuk besok, ya?” bujukku karena tak ingin melukai hati Bapak. 

Hati ini hancur saat melihat bagimana bahagianya Bapak memakan ayam goreng bangkai ini. 

“Baiklah, simpan saja untuk besok. Bapak sudah makan dua potong besar,” ujarnya bangga. 

“Bapak makan nasi dulu, Dani mau keluar sebentar beli kerupuk.” 

Bapak mengangguk. Aku hanya mencari alasan agar bisa keluar untuk membuang ayam goreng bangkai itu. Aku pun pergi lewat belakang dan memutar lagi agar bisa kembali ke jalan gang. Kubawa ayam goreng bangkai itu dan kulemparkan ke dalam tong sampah besar. Hatiku sakit sekali. Akan tetapi, aku tidak boleh menuduh sembarangan. Mana tahu Salma tidak tahu kalau ayam gorengnya busuk. 

Aku berjalan menuju warung depan gang, hanya dengan membawa uang dua ribu untuk membeli kerupuk. Itu pun uang sisa yang kutemukan dalam saku celana. 

Ada dua orang duduk di bangku tak jauh dari warung. Sepasang kekasih sepertinya. Mereka duduk sambil bersenda gurau. Mengapa wanita itu mirip Salma? Karena penasaran, aku pun mendatanginya. 

Jantungku teremas seketika saat melihat ternyata itu memang Salma. Ia sedang merangkul mesra lelaki yang juga memakai almamater sama sepertinya. Tak kusangka Salma berkhianat setelah apa yang sudah kukorbankan untuknya. Hatiku teramat sakit. 

“Salma!?” panggilku. 

Mereka berdua menoleh. Salma bukannya kaget malah langsung tertawa seolah mengejek. 

“Apa kamu sengaja ngasih Bapak ayam goreng busuk? Tega kamu!” bentakku. 

“Hahaha, iya. Aku memang sengaja. Ayam itu sudah mati tiga hari di kandang pacarku, daripada terbuang sia-sia kuberikan saja untukmu. Itu pun tidak utuh untuk kalian, separuhnya kuberikan pada anjing!” ucap Salma. 

Bagaikan disambar petir hatiku mendengarnya. Jadi, selama ini Salma tak benar-benar mencintaiku? Semua ini tipuan belaka? Ia hanya memanfaatkanku saja untuk biaya kuliahnya? Darahku mendidih seketika. 

“Tidak kusangka kau setega dan sejahat ini. Kamu tega! Kamu sudah menyakiti Bapak, bukan hanya aku.” 

“Sudah, diam lu miskin! Mana mau Salma sama elu yang miskin dan tidak berpendidikan. Salma selevel sama gue yang anak kuliahan. Hahaha,” ejek pacar Salma. 

“Aku tidak punya urusan denganmu!”

Bugggh! 

Kulayangkan sebuah tinju tepat di wajah lelaki ini. Saat ia ingin membalas, Salma melarangnya. 

“Sudah, Sayang jangan diladeni si miskin ini. Mending kita pergi jalan-jalan ke kafe. Si miskin ini sudah tertipu olehku, hahaha!” hardik Salma kasar. 

Lelaki itu menghidupkan motor ninja-nya, sesaat sebelum pergi Salma mendatangiku. 

“Tega kamu, Neng. Sampai hati menyakiti hatiku dan Bapak,” ucapku pelan karena merasa sesak dalam dada. 

Cuihh! Salma meludahi wajahku, lalu kemudian pergi bersama lelaki bajingan itu. Hatiku sangat hancur. Tak pernah aku merasa sekecewa ini. Salma yang kucintai sepenuh jiwa raga, ternyata hanya seorang penipu. 

Salma sengaja memberikan kami bangkai ayam. Ia sangat kejam menyamakan aku dan Bapak bagaikan anjing. Aku memang miskin, tapi masih punya harga diri. Inikah rasanya patah hati dan benci dalam waktu bersamaan? 

Seandainya ia tahu bagaimana sulitnya aku mencari uang untuknya. Menjadi badut bukanlah perkara mudah. Suatu hari nanti akan kubalas semua hinaan kalian. Kau bersama dia dan aku bersama doa.